Sabtu, 06 Maret 2010

Tafsir islam untuk Perdamaian

Demikian tulis Dr Syafi’i Anwar dalam kata pengantar buku Islamku, Islam Anda dan Islam Kita, karya terbaru Gus Dur.
Pernyataan tersebut menjadi kata kunci dan bingkai untuk memotret
keseluruhan pemikiran Gus Dur tentang Islam dalam kaitannya dengan
isu-isu mutakhir, seperti nasionalisme, demokrasi, pluralisme, hak
asasi manusia, kapitalisme, sosialisme, dan globalisasi.
Sebagai seorang cendekiawan, Gus Dur merupakan tokoh Muslim yang kaya
talenta.
Pembahasannya tentang Islam selalu mampu menerobos dan menyentuh
wilayah-wilayah yang sering kali "tidak terpikirkan" oleh para ulama
pada umumnya. Dalam muktamar NU tahun 1935, para ulama melahirkan
sebuah pandangan keagamaan yang merupakan cikal bakal bagi
keindonesiaan, yaitu wajib hukumnya mempertahankan Indonesia yang pada
saat itu dipimpin oleh orang-orang non-Muslim (Hindia-Belanda).
Salah satu alasannya, ajaran Islam dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari oleh warga negara secara bebas (hal 5).
Pandangan ini pula yang mendorong NU untuk mendukung sepenuhnya
kepemimpinan Soekarno-Hatta, yang dikenal dengan sebutan pemimpin
darurat yang mempunyai kekuatan penuh (waliyyul amri al-dharûrî bi
al-syawkah). Gus Dur memilih tafsir model kedua karena tafsir yang
kedua merupakan tafsir yang paling tepat untuk diterapkan dalam konteks
kebhinnekaan. Karena itu, Gus Dur sampai pada
kesimpulan bahwa wacana negara Islam dan wacana politik Islam yang
sejenis merupakan pemahaman yang kurang tepat (hal 81-84). Dalam buku ini, Gus Dur menitikberatkan pentingnya
menerjemahkan konsep kebajikan umum (al-mashlahah al-’ammah) sebagai
jembatan untuk mengatasi problem Islamku dan Islam Anda.
Pada umumnya, diskursus keislaman hanya terhenti pada kedua model tersebut.

Oleh karena itu, Gus Dur menawarkan pemikiran pentingnya merajut antara
keberislaman yang berbasis pada pengalaman dan keyakinan untuk
membangun pemahaman keagamaan yang berorientasi pada terwujudnya
kebajikan umum dan keadilan sosial. 

0 komentar: